Tahukah Anda? Pemulihan Lingkungan Sangat Mahal Harganya! - punyarumah.id

Tahukah Anda? Pemulihan Lingkungan Sangat Mahal Harganya!

3 bulan yang lalu      Konservasi Energi

Upaya konservasi lingkungan seringkali kalah cepat dibandingkan dengan aksi perusakan. Maraknya kebakaran hutan dan perburuan liar merupakan tanda konservasi tidak berjalan dengan baik. Revisi undang-undang yang diandalkan untuk menjadi solusi tak kunjung dibahas.

''Negara pembakar hutan.'' Demikian julukan yang kerap ditimpakan kepada Indonesia. Nota protes keras dari negara tetangga juga sering dilayangkan agar Indonesia serius mengatasi kerusakan dan kebakaran hutan.

Pada 2015 silam, kebakaran hutan dan lahan di Indonesia menjadi sorotan dunia karena kerusakannya cukup parah. Nilai kerugiannya fantastis: Rp 221 trilyun. Kerusakan itu berdampak pada ekosistem hutan. Tak pelak, kerusakan hutan terjadi lebih cepat daripada upaya merestorasinya.

Coordinator Campaign WWF Indonesia, Sulistyowati Diah Hayuningrum mengungkapkan, amburadulnya upaya restorasi terjadi gara-gara pemerintah menindak pelaku perusakan. ''Jadi tidak seimbang,'' katanya kepada GATRA, awal Maret lalu.

Berdasar data WWF, hutan di Sumatra, misalnya, tersisa tinggal 24% dan Kalimantan 53,9%. Masifnya alih fungsi hutan menjadi perkebunan dan pengusahaan hutan menjadi penyebab utama. Dampaknya, daya jelajah satwa liar seperti gajah Sumatera dan harimau Sumatera semakin sempit. Tak mengherankan, jika konflik dengan manusia meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Spesies hewan yang dilindungi pun jumlahnya menurun.

Kini, jumlah harimau Sumatera diprediksi tinggal 317 ekor dan gajah Sumatera kurang dari 1.000 ekor. Kondisi tersebut menurut Direktur Eksekutif Indonesian Center For Environmental Law (ICEL) Hendry Subagiyo sudah pada titik darurat keanekaragaman hayati. Karena yang terancam di masa depan bukan hanya hewan yang dilindungi, melainkan juga keragaman hayati hutan.

Apalagi, pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perubahan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi dan Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (RUU KSDAHE) belum menjadi proritas utama baik DPR maupun pemerintah.

Padahal, kasus-kasus yang terkait dengan konservasi keanekaragaman hayati, seperti kematian dan satwa yang dilindungi, pembangunan pabrik/usaha di lokasi yang kaya keanekaragaman hayati atau daerah resapan air, serta pencurian sumber daya genetik dan pengetahuan tradisional, semakin meningkat dan meresahkan.

''Jika masih mengggunakan UU Nomor 5 Tahun 1990, sulit untuk menanggulangi ataupun memberikan efek jera,'' katanya kepada M. Egi Fadliansyah dari GATRA.




Komentar Artikel "Tahukah Anda? Pemulihan Lingkungan Sangat Mahal Harganya!"